1 Febuary

February 1, 2015 § Leave a comment

imageback.com_bdf4fcdec4DYLOQDO34444f99a93f3

Namanya langit senja..Terlihat terang, mesti tak sempurna

Sunyimu teduh

cukup kau tetap ada. Hatiku Jatuh begitu saja.

aku suka aroma sabun yang menyegarkan. satu hal yang aku ingat kala senja.

aku suka pendar-pendar bedak tabur tidak rata di seraut wajah kecil anak balita

bila senja tiba, aku suka bau baju hangat beraroma minyak telon yang dipakai kedodoran

aku suka menikmati kopi dan sebungkus martabak manis, di pinggir jendela  berterali..

aku suka, kamu ada di sampingku

Advertisements

Ada yang Belum selesai

February 1, 2015 § Leave a comment

Kupikir urusannya sudah selesai begitu saja. Satu setengah tahun lalu saat kau bilang baru putus dengan pacarmu dan Kau menyesal putus dengannya, lalu mencoba pandangan lain. Tapi aku menanggapinya santai saja – hingga pagi ini, di sela-sela sayuran berwarna hijau, merah, dan lainnya, di bawah langit basah. aku melihat sebuah senyum, lalu aku ingat-ingat kembali milik siapa senyum itu. aku melihat senyummu. Aku senyum balik. Sial!. apa-apaan ini?!.

Aku jadi ingat, seminggu lalu di hari Jum’at sebelum pukul tiga dini hari. Entah bagaimana caranya kau muncul tiba-tiba. Seperti pelajaran mencongak dadakan waktu SD. Tanpa persiapan, gelagapan, Kau berkunjung melalui mimpi. Mulanya, pada sebuah peron kereta bawah tanah yang cahayanya terang benderang. Aku melihat sesosok Ayahku yang sudah tiada, wajahnya cerah bercahaya, dia sangat tenang dan hanya diam. Namun, seolah-olah kita bercakap-cakap.

Dibalik itu, kau seolah-olah mencuri dengar, penasaran, dan bersimpati. Lalu, kisahnya berubah berpusat pada kita berdua. Kau menyalahkanku. kok bisa?. Katamu, aku tidak boleh bertingkah seperti seadanya aku. Lalu, adegannya berganti di sebuah tangga darurat. Tampaknya kita (kau dan aku) terlibat dalam percakapan serius. Kau menantang keseriusanku terhadapmu

Kedua kalinya, kau bilang agar aku berhenti seperti itu. berhenti membuatmu terpesona, kau sudah memiliki pacar baru dan takut jatuh cinta kepadaku. Aku disalahkan atas ketidakteguhan perasaan yang kau punya itu? hah, kok bisa?

Kuceritakan pada temanku, menurutnya jodoh itu rahasia dan mistis (bagian yang ini aku masih tak mengerti). Apakah harus kita bertemu, menceritakan ini semua kepadamu?Terakhir,saranku yang terakhir itu malah berubah bencana untukmu. Mengenai mencari kejelasan tentang parasaanmu, perasaan mantan pacarmu dulu.

Lalu haruskah kita bertemu? bagaimana caranya? jika bertemu lalu apa? ya, tentu ceritaku tak sepenting statusmu dengan pacar barumu yang cantik, anggun, lembut dan hobi menggambar..

Barangkali aku begitu mudahnya menganggap Keberadaanmu begitu mudah diusung waktu

Sementara tidak seperti itu,

Yang disebut kenangan, sebetulnya dicengkram kuat oleh ingatan malu-malu,

juga hati yang kecewa sebab berbeda-beda, lini masa, dan hanya satu kali percakapan panjang.

Andrea Hirata, Edensor..

Apa memang ada yang belum selesai?

Gerimis

Aku ingin tidur lagi saja

Tuhan, Genggam jiwaku baik-baik

Surat untuk Tuhan ( doa penghujung tahun)

December 30, 2014 § Leave a comment

Engkau yang begitu Besarnya.. yang senantiasa ingin aku rengkuh sedekat-dekatnya.. Tetap di sana. Selalu di sana. Pemilik langit dan bumi. Penguasa alam semesta. Bagimu segala puja dan puji. Sang pemberi kelir dari masa ke masa.

Engkau yang Maha bijaksana,

Terima kasih telah menyelipkan begitu banyak warna dan warni

Sebuah pemahaman baru..

petualangan baru..

persahabatan  baru..

pelajaran baru..

rasa baru..

Entah musti bagaimana pantasnya untuk aku lantunkan doa. Inginku yang seindah-indahnya. Tapi, toh apapun bahasanya bagaimanapun indah rangkaian kalimatnya akan tetap sama.

Hanya lebih banyak semoga, semoga, dan semoga lainnya dari tahun-tahun sebelumnya. Daftarnya akan semakin panjang. Kurasa Engkau akan tersenyum dalam Arsy jika benar-benar aku tuliskan di sini. Tidak. Tidak  akan aku lakukan, hanya akan aku rangkum secukupnya di dalam dada.

Wahai yang Maha Perkasa..

Semoga mahluk kecil nan lemah ini, senantiasa terjaga. Tetap berdiri semakin tegak tanpa kesombongan. berjalan semakin tenang tanpa keraguan. terus berkembang seiring perjalanan. Bukan sekedar  melanjutkan hidup, tapi bertumbuh melewati kehidupan dengan makna yang membuatnya berguna.

tidak apa-apa jika langkahnya lebih kecil dibanding yang lain. yang diinginkan hanya agar seimbang berirama tidak putus. Hingga di akhir hari jejaknya tak mudah terhapus hujan..

dan senyumnya terukir manis tanpa penyesalan.

Aamiin

Sabtu

December 20, 2014 § Leave a comment

Bulan ke dua belas di tahun ini berjalan lumayan cepat. Andai waktu diibaratkan mobil sport yang diklaim sebagai tercepat di dunia dengan kecepatan 267 mph, 0-60 dalam 2,4 detik. Kurasa masih tidak sepadan juga. Dihari ke kedua puluh bulan terakhir di tahun berjalan. Hari Senin melambat menjadi hari bukan Senin. Hari bukan Senin cepat-cepat berlari lalu menjadi Senin. Terus begitu. Lalu, Sabtu dan Minggu tidak ada  kamusnya di dalam hidup orang seperti aku.

Diawali bujukan seorang sahabat dari SMP yang sekarang sudah berbuntut satu dan mulai merintis bisnis bakery-nya. Dan, saya yang masih tetap lajang saja di penghujung tahun *duh*

Manusia, bukan… Aku dan sahabatku ini. Salah…. hidupku saat ini dipenuhi hal-hal yang baru akan ada artinya jika dimaterialkan. Jadi uang. Lalu dibuat untuk jadi kenangan.

” Gie, bantu aku jualin kain Batik Tulis Asli Madura, Kamu juga harus ambil untung.”

Mampus. ini terdengar bukan permintaan, tapi keharusan bukan?. disela-sela bingung ini, Kepalaku adalah kantor paling sibuk sedunia. Aku memikirkan apapun. benar-benar apapun.

Kenapa anak kecil pada mau jadi Presiden semua, duapuluh lima persen jadi Dokter, dan sisa sedikitnya pingin jadi Guru?

Kenapa mantan pacar sebegitu naifnya. bener-bener naif? * aku puas tertawa*

Kenapa ada orang yang benar-benar tidak bisa diajak melucu?

Perlukah Justin Bieber jadi idolanya ABG se-dunia?

Apakah aku segemuk itu?

Bagaimana jika Sherlock tidak tinggal di 221B Baker Street, tapi hidup serumah dengan Mr. Bean?

Seberapa menyeramkan Dadjal itu? jadi, aku bisa juga terperdaya gitu?

Apa benar bidadari punya lubang hidung? Jika aku masuk surga dan diberi seorang bidadari, apa kami akan cocok satu sama lain? dan tidak akan putus seperti pacaran? apa kami bisa punya anak?? apakah anak kami akan lahir dengan cara tidak biasa seperti *poooffff* keluar begitu saja dari cahaya??

….

Sebelum ada pertanyaan yang kujawab, rasa bingungku beranak sepuluh di kepala. Lalu, aku jawab “iya, baiklah”. Sebelum para customers Online Shop ku bertambah banyak yang nge-PHP-in. Sebelum mereka  selalu muncul, bertanya harga barang dengan tebar senyuman, tetapi langsung cemberut begitu tau ongkos kirim. Sebetulnya mereka baik, tapi tak pernah bisa menjadi teman bagi curhatan. Independensi katanya. Sebelum Nasabah pria hari Kamis yang memakai parfum persis sama punyaku balik lagi. Dan kita sama-sama menyengir malu.

” Ela….., OK aku mau bantu. Aku mau jadi Malaikat bersayap empat buat kamu”. Temanku mendadak bungah. iya, aku bayangkan akan bakalan seperti itu, Tujuh menitan dia Balas BBM yang seperti lari memeluk dibayanganku.

” Sudah ku duga, Kamu bakalan bilang iya….. makasih bingit”

“Tapi, kamu salah Gie…. malaikat itu bersayap dua tau!. kamu kebanyakan”

“Siapa yang salah, Aku nggak salah dalam hal ini”

” Ih, imajinasimu kebanyakan kurangin dikit”

” Enggak, soalnya aku baca :p “

” Dongeng anak-anak?”

” bukan”

” Pokoknya aku benar, kamu ga boleh ngeyel. ngeyel dosa…”

” Yeee, mana dalilnya?”

” Ih, ga percayaan kamu, buka QS, Fatir ayat satu”

” Aku, selalu terintimidasi ngobrol sama kamu, Gie. Cedih “

” hehehehe”

Lalu aku kembali pada pekerjaanku, di Sabtu yang hujan

Seorang Tamu

November 25, 2014 § Leave a comment

imageback.com_320_ddceb6bc19ORZZTWF305270aa6322

Pada jam sepuluh lewat lima menit, malam setelah hujan.  Pada pengalaman. Pada masa. Pada hati. Pada sudut pandang. Pada harapan kepada cahaya di hari yang akan datang. Celakanya, beda pengalaman, beda masa, maka beda hati, dan beda pola pikir , beda sudut pandang.

Sebelum berkata apa-apa. saya, perempuan yang sederhana, seketika senang pada bau-bauan pewangi pakaian dan pengharum ruangan rasa jeruk. Tak perlu banyak atau berlebih.

Saya cuma tidak bisa tidur nyenyak, makan dengan tenang, mendengar musik riang dengan asiknya, melamun sambil tersenyum, mengerjakan yang harus dikerjakan, meniknati serial drama korea, dan tertawa lepas seakan tak pernah terjadi, tidak pernah ada, tidak pernah muncul. bahkan, tidak pernah terbesit.

Lalu, saya mencuri pandang wajahnya dari kejauhan. Dari dinding kasat mata, dan puluhan lampu merah dari tempatnya memadu impian, dari layar kaca yang berisi dimensi maya di baliknya.

kita lanjutkan…

pernahkan kamu melihat remang–temaram di kejauhan? memandang langit sambil duduk sendirian?

menunggu di depan teras rumah seseorang. menunggu sampai malam yang semakin larut. menanti seraut wajah di hadapanmu dengan senyum atau kesedihan, keriangan ataupun kemarahan. penuh syukur atau kekecewaan. apapun itu, kamu tahu kamu akan menerima, menerima atas nama apapun itu sebutannya yang kamu biarkan mengalir begitu saja.

hingga pun tiba waktunya seraut wajah yang kamu harapkan itu muncul, kamu akan tetap duduk tenang di tempatmu. menandai kamu sudah siap. Siap menemani. Siap mendengarkan kisahnya.

Sesekali kamu tergoda pada kehangatan berbagisecangkir kopi untuk berdua, seperti dua sahabat saling memberi. Namun, kamu biarkan keinginan itu tetap sebagai hasrat. membiarkan keinginan itu menguap.

karena kamu tahu….

kamu hanya seorang tamu yang kebetulan lewat

seorang tamu di depan teras sebuah rumah yang mempesona dan sepi

lalu, kamu berpura-pura seperti biasa, berpura-pura bukan kamu yang tanpa sengaja. berpura-pura bukan kamu yang ada di sana.

lalu kamu berlalu….karena kamu tahu

iya, kamu berlalu. karena kamu tidak mengijinkan dia untuk tahu

***

#embuh

September 6, 2014 § Leave a comment

saya mau menulis ini. Tapi, masih bingung. Tapi, sudah mau menuju kalimat kedua. Iya, ini kalimat ke dua. Tapi yang barusan saya tulis kalimat kedua, sebenarnya adalah kalimat ke-tiga. Jadinya, malah saya yang bingung.

Jadi awalnya, saya ingin menulis. Menulis apa saja, soalnya acara TV di malam Minggu memang tidak ada yang menarik untuk di tonton. Soalnya lagi, koleksi film saya sudah tidak update seperti dulu. Dan, koleksi buku saya belum ada yang baru. kalau soal musik, saya lagi pake headphone. Masalahnya tak terdengar apa-apa di sana, Iya, cuma buat gaya-gayaan. Sungguh.

Oh, ternyata ini sudah memasuki paragraf ketiga. Dan sampai di kata ini, kalau tidak salah jumlahnya sudah mencapai 114 buah. Dan saya masih bingung juga mau menulis apa. Atau saya menulis ucapan terima kasih saja kepada kalian yang juga senang menulis. Menulis apa saja, seperti yang saya lakukan sekarang ini. Jujur saya suka menulis, Tapi, lebih suka lagi LAKI-LAKI. Laki-laki yang ganteng dalam pandangan saya. Bukan yang ganteng versi televisi dan artis-artis Korea. Karena ganteng dan gagah itu soal selera, tapi, krim anti aging itu sungguh luar biasa, minyak zaitun juga. Minum kopi yang di atasnya di taburi cocolate granula di Sabtu malam, saya juga suka, kok.

Saya sedang membaca review foot cream yang bagus dari google ketika menulis paragraf keempat ini. Mencari harga termurah dan kegunaan yang maksimal. Mana ada kan?. Seperti mencari wanita idaman pria masa kini ; putih, tinggi, langsing, nggak rewel, suka ketawa, rambut panjang. Lho? kuntilanak?.

Ini sudah paragraf kelima. Jadi, saya sering bertanya-tanya ada begitu banyak kenalan saya yang tidak suka nonton Running Man mereka bilang ” Ih, acara apaan sik. Aku ra mudeng“. Ah, mungkin mereka kurang menikmati hidup saja, pikir saya. Betapa kalau mereka cermati, sebenarnya Lee Kwang Soo walaupun agak (maaf) ‘lholak-lholok’ dan jadi anak bawang itu ngegemesin. Haroro juga. Mungkin, mereka yang tidak suka, kehidupannya sudah banyak drama, dan kurang main-main. Jelasnya sih balik lagi masalah selera.

Sampai paragraf keenam ini, saya belum menemukan inti dari tulisan ini. Mungkin saya akan mengucapkan terima kasih yang sungguh-sungguh sama kalian yang suka menulis lagi membaca, itu. Pastilah, ini akan terasa retoris. Mirip calon presiden dan legeslatif dalam beberapa musim yang membungkusi pohon-pohon dengan stiker dan baliho. Andai mereka tau pohon tidak suka memakai baju, Pak, Bu.

Jadi, wahai kalian yang suka menulis lagi membaca. Tetaplah menulis. Tetaplah membaca. Terserah kalian mau menulis pakai apa. Kertas bisa, komputer bisa, dan tentunya masih pakai tangan dan otak yang masih bisa bekerja. Jadi, saya mendadak teringat, sudah berapa lama tidak nulis tangan pake huruf latin ya, tegak bersambung. masih sebagus dulu nggak ya nulisnya?. terkadang, rindu juga nulis tangan. Galau deh galau. Eh, menulis pakai kaki juga bisa lho, tapi, itu sulit sekali. percayalah, silahkan kalian coba kalau tidak percaya. Baiknya, kalian percaya saja biar mudah. Biar saya terkesan keren.

Dalam Paragraf yang bakal jadi paragraf terakhir ini, Saya menduga; agaknya akan sedikit turun hujan malam ini, langitnya sedang muram, sedih melihat kalian yang ingatnya melulu soal pacaran di malam Mingguan. Cepat pulang ke rumah!. Hurry home before the sky breaks out!. Mengingat Semtember ini, hujan datangnya sedikit telat.

Ini sudah larut, memang. Dan masih, tulisan ini nggak ada maksudnya, memang. Seperti ’embuh’ . ungkapan jawa yang murujuk sesuatu yang tidak jelas. Seperti lagu ’embuh’ ini yang menghadirkan ceria – freaky dari Daewin dezz. yang mengangguk-anggukkan headphone-nya di kepala.

bukan malam kelabu,

bukan, ini suasana yang ceria…

#np darwin deez – radar detector *akhirnya headphone sayapun bekerja sesuai fungsinya*

so, mari ngopi,

jika kopi dapat melarutkan rindu, aku mau dua. biar tuntas.

BUSXDnUCEAAQtjx.jpg-large

seorang embuh,yang kurang konsisten memilih teh atau kopi di pagi hari. Tukang manusia yang sedang ditugaskan mengisi waktu luang di bumi–malam Minggu. 

Ketika…

August 19, 2014 § Leave a comment

Ketika sebelumnya saling bertanya kabar, obrolan-obrolan dengan teman lama di sebuah group sosial media dan akhirnya berkutat pada pembahasan ” Pusing ya, udah dewasa, ih. Enakan waktu SMP sama SMA dulu“, dan hanya mentok sampai di situ-situ saja.

“nggak ada waktu buat mikirin hal-hal yang nggak penting lagi, nggak ada waktu untuk berkhayal dan berimajinasi kaya anak kecil” ucap teman lama. iya, semakin kesini, dirasa semakin berat, yang berat adalah beban hati.

“kapan kita mau jalan”

“Si anu, si inu jangan lupa diajak”

“Harus ngumpul semua pokoknya”

Pertanyaan-pertanyaan itu, yang realisasinya jarang sekali terlaksana karena alasan kesibukan masing-masing. Nol besar. Dan selamanya, moment-moment tersebut sudah berbeda, hambar. Seperti mencicipi makanan di sebuah warung langganan lama, kita baru sempat berkunjung lagi setelah beberapa saat. Ketika itu pemiliknya telah berpindah tangan atau diwariskan Apa yang terjadi ? mungkin makanan tersebut tampilan luarnya masih tetap sama. Tapi, tangan-tangan yang ikut andil dalam membuatnya berbeda. Rasanya pun akan sedikit berbeda. Ciri khasnya pudar walaupun rasanya masih tetap enak.

***

Ketika kita menyadari kita semakin tua, Ketika hari mulai membosankan, ketika terlalu banyak lagu sentimentil diputar di radio pada jam sebelas malam, ketika seharusnya kaki untuk jalan banyak-banyak malah kita tanam dalam-dalam, dan ketika angin mulai dingin lagi, ketika…

sepertinya, album lama akan menjadi tujuan yang menyenangkan, untuk membantu menyegarkan tawa kemarin dulu… untuk kembali ingat sesuatu yang pernah dipercaya:

Hidup itu besar,

tapi sederhana

Dunia yang kadang rumit,

tapi ada teman untuk empat belajar dan bermain yang paling menyenangkan

P1140636-1

 

Kamu sangat berarti, istimewa di hati, slama nya rasa ini
Jika tua nanti kita tlah hidup masing-masing, ingatlah hari ini—Project Pop