Ketika…

August 19, 2014 § Leave a comment

Ketika sebelumnya saling bertanya kabar, obrolan-obrolan dengan teman lama di sebuah group sosial media dan akhirnya berkutat pada pembahasan ” Pusing ya, udah dewasa, ih. Enakan waktu SMP sama SMA dulu“, dan hanya mentok sampai di situ-situ saja.

“nggak ada waktu buat mikirin hal-hal yang nggak penting lagi, nggak ada waktu untuk berkhayal dan berimajinasi kaya anak kecil” ucap teman lama. iya, semakin kesini, dirasa semakin berat, yang berat adalah beban hati.

“kapan kita mau jalan”

“Si anu, si inu jangan lupa diajak”

“Harus ngumpul semua pokoknya”

Pertanyaan-pertanyaan itu, yang realisasinya jarang sekali terlaksana karena alasan kesibukan masing-masing. Nol besar. Dan selamanya, moment-moment tersebut sudah berbeda, hambar. Seperti mencicipi makanan di sebuah warung langganan lama, kita baru sempat berkunjung lagi setelah beberapa saat. Ketika itu pemiliknya telah berpindah tangan atau diwariskan Apa yang terjadi ? mungkin makanan tersebut tampilan luarnya masih tetap sama. Tapi, tangan-tangan yang ikut andil dalam membuatnya berbeda. Rasanya pun akan sedikit berbeda. Ciri khasnya pudar walaupun rasanya masih tetap enak.

***

Ketika kita menyadari kita semakin tua, Ketika hari mulai membosankan, ketika terlalu banyak lagu sentimentil diputar di radio pada jam sebelas malam, ketika seharusnya kaki untuk jalan banyak-banyak malah kita tanam dalam-dalam, dan ketika angin mulai dingin lagi, ketika…

sepertinya, album lama akan menjadi tujuan yang menyenangkan, untuk membantu menyegarkan tawa kemarin dulu… untuk kembali ingat sesuatu yang pernah dipercaya:

Hidup itu besar,

tapi sederhana

Dunia yang kadang rumit,

tapi ada teman untuk empat belajar dan bermain yang paling menyenangkan

P1140636-1

 

Kamu sangat berarti, istimewa di hati, slama nya rasa ini
Jika tua nanti kita tlah hidup masing-masing, ingatlah hari ini—Project Pop

Advertisements

Satu Hari di Bulan Juni

August 16, 2014 § Leave a comment

Saya mengenalnya di suatu minggu pagi di bulan Juni. Saat saya sedang Jalan santai di alun-alun kota, sendirian. Saat itu saya sedang sibuk santai memandangi layar handphone di tepi trotoar. Kemudian, dia menyapa saya dengan ramah, yang entah datangnya dari mana. Pertama, dia hanya bersenandung lirih tepat di sebelah saya.

“ummmm uwiu…wiuu” begitu gumamnya. Saya toleh dia di sebelah kanan kemudian saya edarkan pandangan ke arah kiri. Suaranya begitu renyah , dalam, merdu, jazzy. Dan saya suka!. hangat!. Karena itulah, perhatian saya mulus dia curi. Dia, mulai berkata dalam nada

Kita tak perlu banyak uang

Kita bahagia meski tak kemana-mana

Saya tersenyum mendengarnya, tergelitik. Ketika saya tersenyum lagi, dia semakin dekat, berseliweran di sekitar saya, sambil menari-nari riang. menciptakan suasana hangat yang magis, hanya dengan rangkaian kata dan nada yang sederhana. bukan bahasa dewa. Iya, kita berdua hanya manusia yang senang ‘menertawai kemalangan sendiri’.saat itu. Kata-katamu, begitu aku- banget.

dia mulai bernyanyi, mulai membesarkan angan-angan, mulai membuat saya melayang… sedikit.

Kamu cantik meski tanpa bedak

Rasakan senang di dadaku, memilikimu

Ah, rasa-rasanya dia pandai membesarkan dan melambungkan seseorang dengan pujian. Tulus.

“Siapa kamu?” tanya saya

“Satu hari di bulan Juni” jawabnya

“Oh, iya sekarang bulan Juni. haha…. bukan itu maksudku. Nama kamu siapa? Aku, sebut saja, Gie” kata saya lagi. Saya pikir, dia kurang memahami pertanyaan saya, atau mungkin, dia sedang berusaha mengeluarkan banyolan cerdas.

“Iya, Gie, saya satu hari di bulan Juni… namaku satu hari di bulan Juni. Aku adalah lagu yang senang kau dengarkan, dan bisa membuatmu tersenyum”

Benar, kamu bisa membuatku tersenyum untuk pertama kali mendengarkan, Satu hari di bulan Juni. Selamat, aku suka padamu!.

Satu hari di bulan Juni tidak tergolong puitis. Kalimatnya sedernaha dan berulang-ulang seperti mantra. Cara bicaranya tulus, hangat, dan apa adanya. Keberhasilan tertinggi yang dicapainya adalah mampu membuat seseorang seperti saya melambung beberapa detik.

hahaha…. saya tahu, saya tahu…. salah satu alasannya karena saya yang jarang mendapat pujian ” kamu cantik mesti tanpa bedak” dari seseorang seperti yang dia tuturkan kepada saya. 

Mungkin itulah, yang membuatnya punya daya magis.alunan jazzy kental dan berat.Yang jelas iramanya tidak membebani siapa-siapa. tidak memihak. Dia justru terasa dinamis lincah dengan liyuk-liyukan di telinga.

Oh kita kan baik-baik saja
Kita kan baik-baik saja
Kita kan baik-baik saja

 saya tersadar, saya sedang mematung sepersekian menit. Orang-orang lalu lalang di sekitar saya, ada juga orang yang keherannan mengerutkan dahinya, mengedarkan tatapannya tepat ke arah saya. iya, perempan berkerudung yang sedang memegang ipod itu dirasanya sedang bengong tak jelas dan tersenyum sendiri. Mungkin saya gila. Oh, saya tidak gila. Saya waras.

kamu tahu, teman saya ini selalu datang dengan riang dan menyenangkan hati saya. nyaris seperti kapas tertiup angin. nyaris berhamburan kemana-mana, hati saya. Keriangannya manis seperti gula-gula, seperti kicau burung yang lagi pacaran di taman. seperti bunga-bunga riang di musim semi. keriangannya menelan semua sumbang dan sendu. suaranya meniup semua di sekitarnya, nyaris terbang.

kamu, mungkin suatu hari nanti, dia akan menghampirimu juga. Percayalah. di suatu perjalanan asing, dia tidak hanya senang di bulan Juni tapi senang di bulan-bulan lainnya. senang bersamamu

 

 

Ayah ini aku sedang rindu

August 15, 2014 § Leave a comment

images

AYAH. kangen ingin ngobrol sama ayah lagi. – botol coca- cola 

Ada kehilangan-kehilangan yang rasanya baru kemarin terjadi, dan mungkin selamanya akan seperti itu. Ada yang bilang, mungkin, alasan Tuhan menciptakan rindu adalah agar kita lebih banyak menikmatinya dengan cara sederhana. mendoakannya.

Berbahagialah untuk kalian, iya kalian, masing-masing kalian. Saya, senantiasa iri dengan kalian yang apabila merindukan seseorang yang paling kalian sayangi, kalian tidak usah bingung untuk bagaimana. bagaimana di sini maksudnya, luangkan waktu untuk sekedar bertatap muka mungkin, atau telpon, atau chat, atau sms, bagusnya lagi memeluk mereka.

beruntung lagi masih mendengar suara mereka.

saya, jika hal itu terjadi. jika rindu itu tiba-tiba menggulung hati saya sampai habis. saya hanya bisa terpekur diam. tak berkutik. selama hampir dua tahun belakangan saya belajar. belajar tabah menghadapi rindu. rindu pada seseorang yang terpisah dengan jarak. berbeda ruang dan waktu.

kamu tahu, rindu ini semakin besar setiap harinya. seperti binatang peliharaan yang semakin tumbuh setiap hari, semakin manja pada tuannya. 

Ayah saya, sekarang entah sedang berapa ribu kilometer jauhnya dari saya. saya yang tidak paham tentang alam ruh itu, hanya bisa menduga-duga. iya, manusia emang suka berprasangka. padahal Tuhan sudah melarang keras untuk kita berprasangka. sangat khas manusia.

seperti sekarang, saat hari berjalan dengat berat, rindu saya terhadap ayah saya berfusi beberapa kali lipat dari pada sebelumnya.

seperti kemarin, jika ada yang membicarakan tentang beliau entah dari kawan lamanya atau saudara jauh saya. saya masih saja menjatuhkan beberapa butir bening air mata. luluh. luruh semuanya.

Beruntung, Tuhan menguatkan saya. masih diberi kesempatan untuk bercakap-cakap dengan ayah saya walaupun, dengan perantara. Tuhan saya sangat baik, Dia Yang Maha Mengetahui, yang tak pernah tidur, dan yang tidak butuh segala sesuatu adalah teman bercakap saya yang sangat baik, lagi Maha Bijaksana. Dia mewajibkan saya untuk berdoa. Untuk mendoakan.

berdoa, mungkin semacam silent gifts  dari saya untuk bercakap-cakap dengan Ayah. Rindunya dan rinduku mungkin dipertemukan Tuhan di tengah-tengah yang disebut alam semesta, untuk bersua sesaat. kemudian hanya kosong dan diam. Dan rindu kita berdua kemudian sama-sama mengempis, mengecil.

Apabila, rindu itu beranjak membesar, lagi. saya lakukan seperti yang diperintahkan Tuhan kepada saya, berdoa. lagi, kemudian rindu itu akan mengecil kembali. kejadian itu yang saya yakini.

“Ayah, harus aku nyatain kalau kita sedang rindu?”

“Apa masih harus aku bilang ke kamu, Ayah– Anggi mencintaimu, dan merindukanmu sangat, gitu?”

ah, ada yang bilang jarak akan membuat kita tersadar seberapa pentingnya seseorang yang selama ini tidak kita pertimbangkan keberadaannya di dalam hidup kita. Ada yang bilang jarak akan membuat tahu seberapa besar kadar cintamu pada seseorang yang selama ini selalu ada untukmu. Ada pula yang bilang jarak akan membuatmu mengerti bagaimana rasa sakitnya merindui.

Ayah, kangen ingin ngobrol sama ayah lagi

Tunggu dulu…. I miss you terribly, yah.

rindu itu tidak sakit. bukan sakit, hanya saja rasanya campuran antara manis dan kecut. itu saja.

antara isi kepala dalam perjalanan

August 11, 2014 § Leave a comment

9ffee471d8LOLBBWH_144465_44ab80fb59

Tas ransel warna biru rapat memeluk di pangkuan, sneaker warna merah itu sesekali goyang-goyang. pemiliknya memang sedikit tidak bersahabat dengan AC yang berada di gerbong tiga yang mengantarkannya dari Malang ke Jogja. Tapi, tak mengapa dia tetep menikmatinya. 

Kamu tahu, bagaimana dia tetap menikmatinya?. hanya dengan sedikit syukur kukira. Dia, menyakini setiap perjalanan, setiap kepindahan, dan setiap jeda jarak adalah hikmah.

Yang diperlukan hanya membuka mata sedikit lebih lebar, menghirup udara dalam-dalam, dan hembuskan lama-lama.Benar, menikmati moment ini adalah caranya rehat dari semua kesemrawutan dan hingar-bingar kota yang tercipta di kepalanya. 

di dalam kepalanya ada banyak asap pekat dari cerobong pabrik penghasil masalah, kemacetan dan bising suara klakson kendaraan. tempat tinggal yang kesempitan. 

1…2…3…. kemudian waktu  dirasa berhenti

suara angin di luar  semakin jelas berbisik, bunyi gaduh kereta menandas bantalan rel ini begitu akrab, dan perpaduan hijau–biru–coklat dibalik bingkai jendela menjadikan dia luas. ah, iya, dia menemukan cara untuk mereset kembali kepalanya. peristiwa ini mungkin yang disebut recycle bin–imajinasi.

mendadak indeks memorynya kosong beberapa giga bite. Ajaib. kemudian wajah-wajah orang di masa lalunya menyamar, memudar dari jarak puluhan lampu merah dari tempatnya memadu mimpi. lembaran-lembaran baku lama yang halamannya telah penuh imajinya berserak–  lenyap seketika. adegan-agedan flashback samar-samar luntur.

Dia, kemudian,  masih memejamkan mata. menghayati.

Lalu, dia berpolah biasa seperti orang tidur, tapi, jika diteliti dia tidak sedang tidur. Pikirannya hidup lebih bersinar daripada empat tahun lalu.. semakin tampak lebih muda. peremajaannya dimulai beberapa saat itu.

samar-samar dari gerbong di depannya, dia mendengar suara Parrel William yang ceria, yang riang, dan…. dan… enerjik. “I’m a hot air balloon that could go to space. With the air, like I don’t care baby by the way. because I’am happy”

masih dengan menutup mata, dia menyungingkan bibir kecil, tersenyum, senyum semakin lebar, dan tawa tanpa suara merekah.

dan masih tersenyum,

tetap tersenyum

selamanya, akan tersenyum

Dalam benaknya, di kamusnya tidak akan ada lagi kata gagal. Dia telah bangkit, atmosfernya menyesaki seluruh ruangan. seperti balon udara yang menjejaki seluruh atap ruangan. Dan seratus kilometer lagi dia semakin mendekati jogja.

cukup tersenyum,

tetap tersenyum kok

 

sebuah perenungan, sebuah perjalanan, sebuah kegemilangan di bulan kelahirannya.

Where Am I?

You are currently viewing the archives for August, 2014 at SodaFreshMilk.